Gakkum KLHK Tetapkan Aktor Intelektual Pemalsu Dokumen Angkutan Kayu di Kutai Barat

Gakkum KLHK Tetapkan Aktor Intelektual Pemalsu Dokumen Angkutan Kayu di Kutai Barat

Ini Kronologinya Hingga Kaca Dipecahkan Pasien Jamaah Tablig Ngamuk saat Diisolasi di Rumah Sakit
KPK Pakai Mapolresta Samarinda buat Periksa Pejabat Kutim Yang Diduga Terlibat Korupsi
Siswa Peneliti Khasiat Tanaman Bajakah Khawatir Masyarakat Salah Konsumsi

Penyidik Gakkum KLHK Wilayah Kalimantan, Seksi Wilayah II Samarinda, telah menetapkan EC (54) aktor intelektual pemalsuan dokumen angkut kayu di Kutai Barat Kalimantan Timur sebagai tersangka. EC ditetapkan menyusul dua tersangka lain B (33) dan M (26) dengan perbuatan penggunaan dokumen kayu palsu yang dibuat oleh EC. Kepala Balai Gakkum KLHK Wilayah Kalimantan, Subhan mengatakan sebelumnya Penyidik sudah lebih dulu menetapkan B dan M sebagai tersangka pada tanggal 6 Agustus 2020.

"Pengungkapan kasus ini berawal dari informasi masyarakat," kata Subhan dalam keterangannya, Senin (10/8/2020). Satuan Polhut Reaksi Cepat (SPORC) Brigade Enggang Balai Gakkum KLHK Wilayah Kalimantan menindaklanjuti informasi tersebut dengan melakukan operasi pada tanggal 3 Agustus 2020 pukul 23.20 WITA. "Tim SPORC Brigade Enggang memeriksa dua truk di Jalan Poros Tenggarong Loa Janan, Desa Jembayan, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur," katanya.

Tim mendapati dua truk mengangkut kayu gergajian jenis ulin. Pemeriksaan lebih lanjut mengungkapkan bahwa kayu tersebut berasal dari Barong Tongkok, Kabupaten Kutai Barat dengan dokumen SKSHH KO atas nama PO Mencimai Bersatu yang diduga palsu. Selanjutnya Tim menahan dan membawa 2 pelaku ke Kantor Balai Gakkum Kalimantan, di Samarinda untuk diserahkan kepada penyidik.

"Saat ini Penyidik Gakkum KLHK telah menitipkan ketiga tersangka di Rumah Tahanan Polresta Samarinda dengan barang bukti berupa truk Toyota Dyna warna biru dengan Nomor Polisi (KT8605VC) beserta muatan 260 keping kayu ulin gergajian dan truk Hino warna hijau dengan Nomor Polisi (DC8865BG) beserta muatan 273 keping kayu ulin, dan 2 dokumen SKSHH KO palsu di kantor Balai Gakkum KLHK Wilayah Kalimantan," katanya. Penyidik Gakkum KLHK menjerat para tersangka dengan Pasal 14 Huruf a dan b, Jo. Pasal 88 Ayat 1 Huruf b dan/atau Pasal 16 Jo. Pasal 88 Ayat 1 Huruf a, Undang Undang No 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan dengan ancaman hukum penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp 1,5 miliar. “Keberhasilan penanganan kasus ini tidak lepas dari kerja sama sinergis yang terjalin dengan baik antara Balai Gakkum Wilayah Kalimantan, Polda Kaltim, BPHP Wilayah IX Samarinda, Kejaksaan Tinggi Kalimantan Timur, dan masyarakat peduli lingkungan," kata Subhan.

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0