Definisi Situasi Masyarakat Berbeda dengan Kebijakan Pemerintah Tempat Wisata dari Ramai Sosiolog

Definisi Situasi Masyarakat Berbeda dengan Kebijakan Pemerintah Tempat Wisata dari Ramai Sosiolog

Wagub DKI Harap Keterbatasan Tak Dijadikan Rintangan Gawai & Kuota Jadi Masalah PJJ
Bagikan Kabar Duka Tantenya Meninggal karena Covid-19 Maia Estianty Masih Pada hendak Bandel kah
Wacana Hapus Kelas BPJS Kesehatan Dinilai Buat Masyarakat Kesusahan

Meskipun pandemi Covid 19 belum berakhir, sejumlah tempat wisata di beberapa daerah Indonesia mulai dipadati pengunjung. Sosiolog dari Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), Dr. Drajat Tri Kartono, M. Si., menuturkan hal ini terjadi karena adanya kesenjangan antara apa yang menjadi kebijakan pemerintah dan protokol kesehatan dengan definisi situasi masyarakat. Menurutnya, masyarakat memiliki defisinisi yang berbeda dari kebijakan pemerintah.

Drajat menerangkan, dalam kehidupan sosial, setiap orang maupun kelompok masyarakat mendefinisikan situasinya sedemikan rupa sehingga mereka merasa tentram dan tenang. "Jadi dalam kehidupan sosial ini, setiap orang, setiap kelompok, setiap masyarakat, selalu mendefinisikan situasinya sedemikian rupa sehingga mereka merasa tentram, mereka merasa tenang, mereka juga bisa bergaul dengan satu dan yang lain," kata Drajat. Menurutnya, saat ini masyarakat memandang situasi pandemi sudah tidak berbahaya seperti saat awal awal COVID 19 masuk ke Indonesia.

Drajat mengatakan, masyarakat kinimerasa dapat mengendalikan dirinya sendiri dan memandang teman temannya juga dapat mengendalikan diri mereka masing masing. Hal itulah yang kemudian membuat masyarakat merasa tidak perlu secemas dahulu. "(Mereka merasa)kita sudah sama sama mengerti, saling punya pengetahuan, sehingga kemudian saya tidak perlu secemas dulu, tidak perlu terlalu ngeri," kata Drajat.

Selain karena pengetahuan masyarakat terkait COVID 19 semakin baik, Drajat mengatakan, kebutuhan masyarakat untuk keluar dari rumah juga menjadi pendorong mereka beramai ramai mendatangi tempat wisata. Drajat menuturkan, hal ini juga terjadi karena pemerintah menahan hak masyarakat untuk berpatisipasi di ruang publik demi menekan angka penularan selama pandemi COVID 19 ini. "Di samping pengetahuan yang sudah semakin baik itu, ditambah kebutuhan mereka melepaskan diri dari keterasingan yang selama ini mereka dapatkan," ungkapnya.

Dalam teori, Drajat menerangkan, masyarakat mulai mengalami disenchantment . Menurutnya, situasi tersebut terjadi karena aktivitas masyarakat yang berulang ulang dalam ruang sempit dan populasi yang tidak beragam. Masyarakat pun, Drajat menambahkan, akhirnya merasa jenuh sehingga terdorong untuk keluar.

"Karena berulang, berputar putar gitu kegiatannya di ruang yang sempit, dengan populasi yang tidak beragam, maka mengalami disenchantment ." Disenchantment itu ketidakmenarikan dalam hubungan sosial atau kejenuhan sehingga mereka harus keluar," terangnya. Drajat menuturkan, masyarakat mulai melepaskan diri dari kejenuhannya dengan keluar rumah secara bertahap.

Awalnya, menurut Drajat, mereka akan melihat lingkungan sekitarnya. Ketika masyarakat melihat rekan rekannya mulai keluar rumah, mereka pun pelan pelan akan ikut keluar. "Ketika mereka keluar, ini kemudian mereka pergi ke tempat wisata, tempat belanja, nah biasanya dilakukan dengan bertahap."

"Pertama lihat orang dulu, 'loh orang orang boleh, orang orang bisa,' maka pelan pelan mereka keluar terus lama lama brul (masyarakat beramai ramai keluar), ternyata mereka punya pemikiran yang sama," kata Drajat. Ramainya tempat wisata di masa pandemi yang belum berakhir satu di antaranya terlihat di Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh. Padahal, secara resmi, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara belum membuka obyek wisata di wilayah tersebut.

Diberitakan sebelumnya, ramainya pengunjung tersebut tampak dikawasan obyek wisata Gunung Salak, Kecamatan Nisam Antara, Kabupaten Aceh Utara, Minggu (7/6/2020). Ratusan orang mengunjungi obyek wisata yang terdiri dari berbagai macam kafe dengan panorama alam pegunungan itu. Sebagian besar pengunjung terlihat mengenakan masker, tetapibeberapa pengunjung lainnya terlihat tak menggunakannya.

Para pengunjung pun tampak datang bersama teman, pasangan, maupun keluarganya. Seorang pengunjung, Tajuddin Banba, mengaku datang bersama keluarganya untuk melepas penat dan bersantap makan siang. “Jika sebelumnya sangat terbatas orang berkunjung, sekarang ini sudah ramai sekali, sudah seperti normal kembali,” kata Tajuddin.

Hal yang sama terlihat di Pantai Bantayan, Kecamatan Seunuddon, Kabupaten Aceh Utara. Ratusan orang berwisata di obyek wisata pantai itu. Bahkan beberapa pengunjung datang dari Kabupaten Aceh Timur dan Kota Langsa.

“Mumpung sudah mulai normal lagi, dua bulan lebih juga tidak ke pantai, maka saya datang ke pantai bersama keluarga,” sebut seorang pengunjung, Muammar.

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0